Rabu, 03 Maret 2010

Act 09 : The Fate

<>


Pagi hari menyapa Diki, Zimi, dan Gumy yang tertidur - lebih tepatnya pingsan - di reruntuhan dinding. Tampaknya mereka menabrak dinding perbatasan saat sampai di perbatasan Ferxin. Saat ketiga orang tersebut bangun, mereka dikepung oleh orang-orang berseragamkan baju prajurit Fenrir. Orang-orang tersebut mengarahkan senjata mereka ke arah Diki dan kawan-kawan.

“SIAPA KALIAN?!” bentak salah satu prajurit itu.

“…. Siapa kalian?” pertanyaan bodoh itu pun terlontar dari mulut Diki yang masih setengah sadar dari tidurnya.

“Kami prajurit penjaga perbatasan di sini. Kemarin, kalian menabrak dinding perbatasan dan menyebabkan penjaga disini terluka! Siapa kalian!? Kenapa kalian membawa M.W.A.R!?”

“Hey, tenang… kami takkan bisa menjawab pertanyaan itu bila kau tak berhenti bicara.” Kata Gumy sambil berusaha bangun.

“Angkat tanganmu, anak muda! Aku dengan mudah bisa menghancurkan kepalamu dengan Assault Rifle ku ini!” ancam prajurit tersebut sambil mengarahkan senjatanya ke arah kepala Gumy. Gumy pun terpaksa mengangkat tangannya.

“Bisa kita selesaikan baik-baik?” tiba-tiba Zimi angkat bicara.

“Mungkin kita bisa! Sekarang ikut kami!” perintah prajurit tersebut. “Yang lain, gunakan U.A.T untuk mengantar M.W.A.R itu.”

“Siap!” teriak prajurit-prajurit yang lain.

“Nah! Kalian semua, berdiri dan ikut aku!” perintah prajurit tadi sambil memaksa Zimi berdiri. Prajurit yang lain pun memaksa Diki dan menggiring Diki, Zimi, dan Gumy menuju kota terdekat. Mereka bergerak menuju barat daya dari perbatasan Ferxin menuju kota yang bernama Harksman, ibukota Fenrir di regional saverius. Regional yang diperebutkan oleh Fenrir dan Xian.

Sementara itu, di ibukota Xian, MTD mendengar kabar kalau ketiga muridnya menjadi buronan Xian. Ia langsung menuju barrak dan bertanya tentang kejadian ketiga muridnya menjadi buronan.

“Apa yang terjadi dengan murid-muridku?” tanya MTD pada Gion. Gion mengerutkan keningnya. “kenapa Gion?!”

“Mereka meninggalkan syal Xian, tidak hanya itu… mereka merobek syal kebanggan kita dengan sebuah pesan kalau mereka telah terkhianati dan akan membalas pengkhianatan itu di kamar mereka.” Jelas Gion.

“Mana pesannya?!” teriak MTD. Gion melengos lesu. Ia mengambil secarik kertas di tumpukkan-tumpukkan buku di atas mejanya lalu memberikannya pada MTD. MTD membaca pesan singkat tersebut dengan seksama.

Kami telah terkhianati oleh Xian…. Kami bukanlah pion yang bisa dijadikan korban untuk sebuah tujuan. Kami juga bukan patung bisu dan tuliyang bisa diperlakukan seenaknya. Kami akan membalas pengkhianatan ini. Kami akan membalasnya!

Gumy

MTD meremas kertas itu. ia kenal tulisan Gumy karena ia pernah disuruh membuat buku sihir hitam untuk Mizuki. KALIAN!!!! KALIAN PASTI AKAN TAHU AKIBATNYA KARENA MELAKUKAN HAL INI!!! Pikir MTD geram.

* * *

Di Harksman, mereka digiring menuju sebuah istana. Sesampainya di sana, mereka langsung dipertemukan dengan gubernur Harksman, Samaya Harashi.

“Selamat datang. Maaf bila kalian merasa seperti tidak dihormati namun kami harus menjaga keamanan kota ini.” Sapa Samaya. “Lepaskan mereka.”

“Siap!” jawab prajurit yang memegangi Diki dan kawan-kawan.

“Nah, kalau boleh tahu…. Mengapa kalian berada di perbatasan Ferxin, menabrak dindingnya dan menyebabkan penjaga kami terluka, dan mengapa juga kalian membawa M.W.A ke perbatasan ini?” tanyanya.

“menabrak dinding dan membuat prajurit kalian terluka merupakan sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Kami bermaksud uuntuk lari dari Xian menuju Fenrir. Dan mengenai M.W.A itu, kami mencurinya agar kami bisa lari dari sini…” jawab Diki.

“Tidakkah kalian sadar kalau perbuatan kalian bisa memicu peperangan besar di regional ini?” tanya Samaya.

“Sebenarnya pertempuran sudah dimulai! Kalian harusnya sudah memulai pertempuran ini!” sela Gumy. Ia melontarkan perkataan tersebut dengan nada tinggi.

“Apa maksudmu?” Samaya bingung akan perkataan Gumy.

“Tuan, kalau boleh anda tahu, Xian telah mengkambinghitamkan Fenrir. Mereka membuat seolah-olah Fenrir melakukan penyerangan yang tidak manusiawi kepada kota-kota kependudukan Xian.” Jelas Diki.

“…..” Samaya berpikir sejenak. “ Mengapa kalian bisa tahu akan soal itu?”

“Karena kami adalah Xianist!” Teriak Zimi tiba-tiba.

“Xianist?!” prajurit di sekitar ruangan tersebut terkejut dan segera mengarahkan senjata mereka ke arah Diki, Zimi, dan Gumy.

“Tunggu! Turunkan senjata kalian!” perintah Samaya. Mendengar perintah tersebut, Prajurit-prajurit itu segera menurunkan senjata mereka. “Jadi, kaliankah yang bernama Diki, Zimi, dan Gumy?”

“Benar. Tampaknya pengumuman kami menyebar hingga ke perbatasan….” Kata Zimi.

Samaya mengagguk sambil tersenyum. “benar sekali. Namun aku tak menyangka kalian akan pergi meninggalkan Xian begitu cepat. Jadi, apa yang membawa kalian ke sini?”

“kami ingin agar kalian segera melakukan tindakan pertahanan untuk kota ini! Cepat atau lambat, pasukan Xian pasti akan segera datang dan menggunakan alasan penyerangan kalian untuk menyerang kalian.” Kata Diki.

“Tak kan bisa. Aku tak mau membuat rakyat kota ini menjadi sengsara akibat perang. Peperangan takkan menyelesaikan masalah.”

“Tapi kalah tanpa bertempur dan menjadi tersangka atas perbuatan yang tidak kita lakukan merupakan suatu yang sangat buruk!”

Samaya hanya tersenyum. Memandangi ketiga pemuda itu yang memintanya untuk bertempur. “Anak muda, Aku tahu kalian ingin agar Fenrir melawan. Namun takkan semudah itu. Region ini dipastikan akan jatuh ke tangan Xian. Entah itu bulan depan, minggu depan, besok, atau hari ini. Sama saja. Namun, jika kekalahan region ini dapat membuat rakyat kota ini damai, maka Fenrir pun rela untuk mengalah. Itulah Pelajaran Fenrir yang tertanam di hati kami.”

“Tapi….” Diki ingin membantah pernyataan tersebut namun tertahan dengan sebuah realita bahwasanya takkan mungkin seorang pemimpin mau membahayakan rakyatnya. “Kami mengerti…”

“Anak muda. Aku tahu bahwa kalian takkan mungkin bisa kembali ke Xian, dan kami pun takkan mungkin menjadikan kalian sebagai warga Fenrir. Namun, kami bisa membantu kalian selamat. Paling tidak, menuju kota Ryouda di Region salvalo. Di sana, mungkin kalian akan aman.” Tawar Samaya.

“Kami mengerti… terima kasih atas kebaikannya.” Kata Diki lesu. Zimi dan Gumy pun hanya tertunduk.

“Mungkin kalian lelah. Istirahatlah di kamar tamu istana ini. Besok akan ada pesawat yang terbang ke region salvalo. Pergilah ke sana. Dan M.W.A kalian, mungkin akan kami bawa ke kota Fargas untuk di perbaiki.” Ajak Samaya. Diki merasakan kebaikan dari kata-kata Samaya. Persis seperti kata-kata yang ia dengar dari tuan Ryon.

Diki mengangguk setuju. Zimi dan Gumy pun menyetujuinya. Akhirnya mereka bertiga menginap di istana untuk hari ini.

Di Barrak Xian, Xianist berkumpul di aula. Semuanya memakai baju kebangsaan mereka. Dan di sana juga ada sekitar 20 M.W.A.R dan 10 unit baru bernama M.W.A.X berdiri tegap mengikuti susunan barisan. Gion, sebagai pemimpin Barrak Xian, berdiri di podium dan berteriak lantang.

“XIANIST! KITA SUDAH DIPERMALUKAN!” itulah teriakan yang dilontarkan Gion. “Betapa malunya kita memiliki tiga orang pengkhianat bangsa yang merupakan pasukan dari barrak ini!”

Semuanya terdiam. Hening sejenak. Lalu Gion meneruskan kembali perkataannya yang dramatis. “Mereka mengoyakkan lambing kebanggaan kita dengan senjata mereka, lalu pergi meninggalkan kotoran di wajah kita. Apakah kita akan membiarkannya begitu saja?”

“TIDAK!” teriak seluruh Xianist.

“Lalu, apa yang harus kalian lakukan?”

“DAPATKAN KEMBALI KEHORMATAN XIAN!”

“Jadi! Angkat senjata kalian, siapkan armor kalian, mantapkan mental kalian, dan junjung tinggi kehormatan kalian! Kita akan menyerang tiga pengkhianat itu!” Teriak Gion bersemangat membakar api patriotism di dalam darah seluruh Xianist.

“HEAAA!!!!” Itulah teriakan Xianist-xianist yang terbakar patriotismenya. Sebuah awal mula kejadian yang akan terjadi pada ramalan yang telah ada beratus-ratus tahun yang lalu. Sebuah pertempuran yang maha dahsyat yang bermula dari sang penyelamat. Mereka tak tahu bahwasanya mereka telah mengaktifkan sebuah rantai kerusakan dunia Verion yang akan merambah pada diri mereka sendiri.

Gion tersenyum. Dalam benaknya ia berpikir untuk membuat region saverius menajdi bagian Xian seutuhnya. Namun lamunannya terbuyar saat seseorang memukul bahunya. Rupanya itu adalah MTD.

“MTD? Sejak kapan kau kembali?” tanya Gion.

“Sejak yang mulia memberikan izin padamu untuk menyerang. Aku akan ikut bertempur dengan ViftySix Ridebikers. Aku akan memberikan pelajaran pada muridku yang tak tahu arti balas budi!”

“Tenanglah! Pertempuran akan terjadi besok. Kita akan memberikan pengajaran bahwa Penghinaan Xian sama artinya dengan kematian.” Ujar Gion.

* * *

Larut malam tak membuat mata Diki terpejam. Ia mendapatkan firasat yang aneh, tak satupun perasaan kantuk menghinggapinya. Yang ada di benaknya adalah seorang perempuan muda yang berada di rumah kecil di pedesaan Fidacs. Betapa rindunya ia memikirkan perempuan itu. namun, ia pun merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Zimi terbangun tiba-tiba dan melihat Diki yang termenung di tempat tidurnya membuat Zimi bertanya.

“Apa yang membuatmu tak mengantuk, Diki?”

“….Aku tak tahu.”

“Jika kau tak tahu, maka masalahmu adalah masalah yang tak terpecahkan….”

“…. Mungkin. Mungkin juga memiliki penyelesaian namun tak sesuai dengan keinginanku.”

“Diki, aku tahu bahwa pahit rasanya bila kita menjadi seorang penjahat di negara kita sendiri. Namun, demi kebenaran, kita harus melakukannya. Apapun yang terjadi.”

“Kau benar Zimi. Demi kebenaran, kita tak boleh ragu. Namun, apakah kebenaran ini mutlak?”

“Kebenaran itu relatif. Namun yang pasti, selama orang bahagia atas apa yang kita perjuangkan, maka itu adalah kebenaran yang sejati.”

“iya…. Terima kasih, Zimi. Tidurlah kembali. Aku akan tidur bila mataku menginginkannya.”

“baiklah… semoga kau mimpi indah, Diki.” Zimi pun kembali tidur. Diki menutup matanya berusaha untuk mengistirahatkan jiwa raganya.

* * *

Jam 10.00, sebuah bom atom menyerang kota Harksman. Menyebabkan 1/3 penduduk tewas. Semuanya menjadi kacau balau. Pasukan pemerintah Harksman terkejut akan serangan tersebut dan melakukan inisiatif untuk mengevakuasi penduduk secepat mungkin ke regional Salvalo. Diki, Zimi, dan Gumy yang sebenarnya sudah berada di bandara terkejut akan serangan tersebut dan membatalkan kebarangkatan mereka menuju kota Ryouda.

“Zimi! Gumy! Segera bantu pasukan Harksman untuk evakuasi penduduk. Aku akan ke istana untuk mencari tahu letak Olympia!” perintah Diki. Zimi dan Gumy menyetujui perintah tersebut dan segera meninggalkan bandara. Setelah melihat temannya pergi, Diki segera meninggalkan bandara melalui jalur barat menuju istana.

Sesampainya di sana, ia melihat samaya sedang melakukan evakuasi pada penduduk.

“kau? Kenapa kau ada di sini?” tanya Samaya heran.

“Itu urusan nanti! Bagaimana dengan keadaan sekarang?”

“Aku tak menyangka mereka bisa begitu kejam. Mereka menggunakan bom Atom untuk menyerang kota ini. Dan tak hanya itu, Dragonfire unit pun dikerahkan untuk membantu pasukan M.W.A dalam penyerangan ini.”

“Dragonfire? Pesaawat tempur model baru itu?” Diki tak percaya. Namun itulah yang dikatakan oleh Samaya.

“KALAU BEGITU! BERITAHU AKU DIMANA KAU SEMBUNYIKAN M.W.A KU!”Diki geram. Matanya nanar. Ia begitu berambisi untuk mengetahui letak A.G.Snya.

“Ia berada di garasi belakang. Dekat dengan M.W.A.R yang lain.”

“M.W.A.R? berarti kalian memiliki pasukan terlatih dalam M.W.A.R juga?” tanya Diki.

“Iya. Salah satunya itu aku. Kenapa?”

“Panggil seluruh pasukan pengendali M.W.A.R untuk menaiki Mobile Warrrior mereka. Paling tidak kita harus menahan pasukan musuh hingga penduduk selamat!” perintah Diki.

“Tapi, peluncur M.W.A.R harus ada yang mengoperasikannya.” Kata Samaya.

“Aku bisa melakukannya. Percaya padaku! Kalian lakukan saja semampu kalian.” Seorang lelaki berbaju putih yang merupakan penduduk sipil tiba-tiba berbicara di hadapan Samaya dan Diki.

“Siapa kau?” tanya Diki.

“Nama tak penting! Yang jelas kita harus menyelamatkan penduduk!” ajak orang tersebut. Diki mengangguk setuju, begitu pula Samaya. Ia memerintahkan melalui recievernya agar pengendali M.W.A.R segera berkumpul di belakang istana untuk peluncuran M.W.A.R.

Di garasi istana, lelaki berbaju putih itu segera mengaktifkan pusat kendali. Begitu cepat ia mengaktifkan pusat kendali, padahal hanya ia sendiri yang melakukannya.

“Seluruh Pilot segera menaiki Mobile Warrior! Peluncuran akan segera di mulai!” perintah lelaki tersebut dari mikrofon. Semua pilot yang berjumlah lima belas orang segera menaiki mobile warriornya. Begitu pula Diki. Ia menaiki A.G.Snya.

Olympus…. Bantu aku….

“MASTERDIKI, RELIC ARMOR ONLINE!”

Diki kembali menyatu dengan Olympia. Namun, beberapa bagian yang rusak tentu saja menyebabkan Diki merasakan sakit yang luar biasa. Namun, ia menepis rasa sakit itu, dan berusaha untuk melakukan hal terbaik yang ia mampu untuk menyelamatkan penduduk.

“M.W.A.R 1, bersiap di posisi peluncuran, sistem roda baik, peluncur baik, energi dalam keadaan 100 %, sistem senjata 100 %, sistem armor 100 % bersiap untuk melakukan peluncuran! 3,2,1 LAUNCH!”

M.W.A.R pertama meuncur dengan cepat. Begitu pula dengan M.W.A.R Selanjutnya. Saatnya giliran Diki.

“kepada Pilot dengan M.W.A.R 16, diperingatkan bahwa sistem senjata 0 %, sistem armor 76 %, sistem energy 0 %, anda diharapkan untuk mundur”

“Biarkan saja! Aku bisa mengatasinya!” teriak Diki.

“Melakukan pengaktifan energi Darurat. M.W.A.R 16 meluncur dalam 3, 2, 1, LAUNCH!”

“ACTIVATION PART! SPEED BOOT!”

Olympus melesat melalui terowongan peluncuran, dan mendarat mulus. Segera ia bergerak mengikuti M.W.A.R yang lain.

“Diki! Bagaiaman keadaanmu?” tanya Samaya melalui receiver.

“Darimana kau tahu frekuensiku?” tanya Diki bingung.

“Receiver ku memiliki pendeteksi frekuensi sehingga aku tahu dimana frekuensimu.”

“Aku baik! Sekarang, kita akan membagi pasukan menjadi 2, penahan dan pemancing! Aku sebagai pemimpin tim penahan, dan kau sebagai pimimpin tim pemancing. Bawa pasukan M.W.A musuh mendekati pasukan M.W.A kita. Jangan biarkan mendekati parameter 200 meter dari jarak penduduk. Lakukan seperlunya untuk membuat mereka terpancing.”

“Ya. Kalau begitu, aku berangkat!” jawab Samaya.

“Bagus, M.W.A.R 2 sampai 8, ikut aku! Sisanya, ikuti M.W.A.R 1!” perintah Diki.

Di sudut selatan, Zimi dan Gumy berhasil mengikuti pasukan Harksman. Mereka berdua membantu pasukan Harksman untuk evakuasi, namun sayangnya pasukan infantry battalion ke-2 Xia berhasil menyelinap masuk dan menyerang penduduk. Pasukan Harksman berjatuhan karena berusaha melindungi penduduk.

“Apa! Sialan kalian! HEAAA!” teriak Zimi sambil melepaskan anak panahnya. Tak sadar kalau yang ia lepaskan merupakan anak panah force sehingga ledakan yang diakibatkan menjadi sangat besar. Gumy pun membantu Zimi dengan melancarkan Invoke Meteorite. Hujan meteor mengenai musuh. Namun, hanya sedikit dari mereka yang tumbang. Pasukan musuh yang selamat melancarkan serangan ke arah Zimi dan Gumy. Mereka berdua terdesak, walaupun dengan Mirror Force Gumy yang berhasil dirapal tepat waktu, mereka pasti akan kalah. Untunglah pasukan pembantu Harksman berhasil sampai tepat waktu dan membantu Zimi dan Gumy.

“Semua pasukan jarak jauh! Begerak ke arah jam 2 dan bokong musuh. Serang mereka dari belakang.” Perintah Gumy. Pasukan tersebut mengangguk dan segera mengikuti perintah Gumy. Mereka berhasil mengepung dan memecah serangan menjadi dua bagian.

“Pasukan depan, pecah menjadi dua bagian dan serang pasukan musuh dari dua arah. Usahakan agar mereka berhasil dilimpuhkan dengan satu kali tembakan” teriak Zimi. Prajurit-prajurit tersebut mengikuti perintah tadi dan membuat pasukan musuh lari.

“Pasukan yang tak terluka, ikut aku ke arah gerbang. Yang terluka ringan, tolong bawa yang terluka parah dan penduduk ke pelabuhan secepatnya.” Perintah Gumy.

“Tunggu! Kau mau kemana?” tanya Zimi.

“Kita harus membuat serangan mendadak, paling tidak mereka akan menarik mundur pasukan mereka dan memberi kita waktu untuk mengirim penduduk ke kota Ryouda.” Jawab Gumy.

“Aku ikut!” seru Zimi.

“Tidak! Kau terluka! Bawa pasukan yang terluka berat dan usahakan penduduk sampai di pelabuhan secepatnya!” perintah Gumy.

“Tapi…” Zimi ingin menyela namun ia tahu kalau ia terluka. Dan sebagai pasukan, ia harus mengikuti perintah. “Baik! Akan segera kulaksanakan.” Jawab Zimi.

* * *

Setengah jam berlalu, pasukan penahan berhasil melumpuhkan M.W.A.R musuh. Kekuatan A.G.S memang menakjubkan. Tanpa menggunakan senjata, ia berhasil melumpuhkan 8 dari 10 M.W.A.R.

“Kau hebat Diki!” Puji Samaya melalui recievernya.

“terima kasih! Bagaimana dengan pasukan pemancing?” tanya Diki.

“Semuanya selamat. Salah satu dari kami berhasil membawa lelaki berbaju putih tadi ke kota Ryouda dengan pesawat Kargo. Jadi pasukan kami berkurang satu.” Lapor Samaya.

“Syukurlah.” Kata Diki sambil menghembuskan nafas lega.

“Sekarang dimana teman-temanmu? Apa mereka sudah sampai di kota Ryoudo?” tanya Samaya.

“Tidak, mereka sekarang sedang membantu pasukan disini untuk mengevakuasi penduduk.”

“APA?! Kita harus menemukannya segera! Aku mendapat kabar kalau M.W.A.R Xian sudah memasuki kawasan ini!” Teriak Samaya.

“BAIK! Aku akan segera mencari mereka berdua!” jawab Diki. Dengan cepat Olympia melaju meninggalkan tempatnya berdiri untuk mencari Zimi dan Gumy. Zimi yang sudah sampai di pelabuhan rupanya bertemu dengan Samaya.

“Zimi? Itu kau?” tanya Samaya dari M.W.A.R nya.

“Siapa ya?” tanya Zimi.

“Aku Samaya!”

“O! ada apa tuan Samaya?”

“Dimana Diki dan Gumy? Bukannya Diki mencari kalian?” tanya Samaya.

“Tidak, aku baru saja sampai di sini.”

“Jadi? Kemana ia akan pergi? Pasukan M.W.A.R Xian sudah memasuki kawasan ini!” Teriak Samaya panik.

“Apa?! Kalau begitu Gumy dalam bahaya! Ia sedang menuju gerbang pintu kota!”

“HAH!!! Kalau begitu aku akan menghubungi Diki!” Samaya berusaha menghubungi Diki melalui receiver namun gagal. “Sial! Ia pasti berada di daerah yang memiliki RSB - Receiver Signal Broker-

“Jadi, bagaimana sekarang?”

“Aku akan ke sana! Kau tunggu di sini!” teriak Samaya lalu melesat pergi menggunakan Booster enhancer menuju Diki. Sedangka Diki yang sedang mencari Gumy menemukan tiga M.W.A.X yang menghalanginya.

“AH! Padahal aku sedang buru-buru!” keluh Diki. Terpaksa ia meladeni ketiga M.W.A.X tersebut. Hanya perlu waktu beberapa menit untuk mengalahkan mereka. Diki berhasil memaksa sang pilot untuk mengeject diri mereka sendiri dengan memaksa membuka katup palka M.W.A.X yang terletak di punggungnya. Namun tambahan 2 M.W.A.X yang lain muncul. Mereka menembaki Diki dengan membabi-buta. Diki berhasil menghindari tembakan tersebut walau tidak seratus persen. Selagi ia menghindar, Diki terus berusaha mendekati salah satu M.W.A.X tersebut dan akhirnya Diki mengeluarkan jurusnya, Dragon Fan Kick Attack! Pukulan berantai tersebut menjatuhkan M.W.A.X tadi dan menerbangkan Assault Rifle yang di pegangnya. Dengan cepat Diki mengambil Assault Rifle tadi dan menembaki M.W.A.X yang satunya hingga peluru di Assault Rifle itu habis. Muncul pertanyaan di benak Diki setelah M.W.A.X terakhir tumbang oleh Assault Rifle tadi.

“Hey Olympus… kenapa saat Olympia ku perintahkan memegang Assault Rifle, Aku pun merasakan hal yang sama?”

Sudah ku katakan kan? Semua panca Inderamu akan bersinkronisasi dengan panca indra Olympia.

“O…” Diki mengerti. “Sekarang masalah kita adalah mencari Gumy….”

Diki… Aku merasakan kebaradaan Gumy di sekitar sini.

“Dimana?!” Tanya Diki antusias.

Aku tak tahu pasti! Tapi ia sangat dekat! Dan aku juga merasakan kekuatan Force berada di sekitar area ini.

Diki bingung atas apa yang dikatakan Olympus. Namun saat ia memperhatikan dengan seksama, Ia merasakan kalau kekuatan Force melingkupi area ini. Hanya saja, Saat diki masih memeriksa daerah ini, sebuah M.W.A.R yang sudah tumbang oleh Dragon Fan Kick Attack-nya Diki bangkit kembali dan berusaha menusuk Diki dari belakang dengan lengannya yang berubah menjadi sejenis pedang. Di saat genting itu, Samaya tiba-tiba muncul dan berteriak sambil mendorong Diki dan Olympia. “AWAS!!!”

Tusukan pedang itu menusuk Area dada kiri M.W.A.R Samaya. Untung tidak mengenai Kokpitnya. Diki yang melihat itu menjadi geram dan secepat kila ia menghajar M.W.A.X itu untuk terakhir kalinya. Tak sadar kalau pukulannya telah di perkuat oleh kekuatan force, Diki langsung memukul M.W.A.X itu tepat di tengah perutnya, tempat kokpit itu berada. Dan berakhirlah riwayat M.W.A.X itu, Perutnya tembus hingga ke belakang dan dipastikan kalau sang pilot sudah mati.

“Samaya! Kau tak apa?” tanya Diki.

“Aku tak apa…. Segera pergi ke gerbang pintu kota. Temanmu Gumy sedang berada di sana. Zimi sudah berada di pelabuhan dan mungkin sudah di bawa oleh pasukanku ke kota Ryoudo via kapal.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan meminta bantuan M.W.A.R yang lain untuk membawaku ke pelabuhan. Tenang saja. Aku takkan mati dengan mudah. Masih ada yang harus ku selesaikan.”

“Baiklah kalau begitu…” Diki pun segera melesat menuju pintu gerbang kota Harksman. Di sana ia menemukan sekumpulan pasukan sedang bertempur dengan pasukan infantry dan pasukan M.W.A Xian. Tak salah lagi, ada Gumy di sekumpulan pasukan tersebut. Nampaknya pasukan tersebut kesulitan. Diki memutuskan untuk membantu, dengan cepat ia muncul di barisan depan M.W.A Xian dan dengan cepat, ia mengangkat dan melempar sebuah M.W.A ke sekumpulan M.W.A yang lain. Gumy pun tak mau kalah, ia kerahkan kekuatan forcenya untuk mengeluarkan jurus terkuatnya, Flaming Storm. Dengan cepat cuaca berubah dan menyebabkan badai panas bertiup dengan kencangnya. Panasnya badai menyebabkan besi-besi reruntuhan meleleh, begitu pula M.W.A Xian. Pasukan musuh pun terbakar oleh Flaming Storm. Untunglah Gumy dengan cepat merapal Barrier untuk menyelimuti Dirinya, Diki, dan seluruh pasukan Harksman. Setelah efek Flaming Storm menghilang, Gumy tiba-tiba terjatuh pingsan.

“Hey! Hey! Bangun!” Teriak salah satu prajurit Harksman.

“Apa yang terjadi!?” Teriak Diki.

“Tuan Penyihirnya pingsan!” teriak pasukan tadi. GUMY!!!!

“Mundur! Bawa juga penyihir itu! kalian semua mundur ke pelabuhan! Biar aku yang menahan mereka!” teriak Diki. Prajurit-prajurit tersebut menuruti perintah itu dan bergerak mundur menuju pelabuhan. Diki kembali menyerang pasukan M.W.A yang tersisa. Beruntung pasukan M.W.A Xian sudah banyak yang rusak akibat Flaming Storm. Olympia segera merangsek maju ke arah M.W.A musuh dan menyerang dengan tangan kosongnya. M.W.A musuh memang sangat keras kepala, mereka terus saja menembaki Diki.

“Dasar keras kepala!” teriak Diki. Diki pun melancarkan serangannya. Sambil menahan rasa sakit karena Olympia terkena tembakan, Diki berhasil melumpuhkan beberapa musuh bersenjata berat dan menggunakan senjata mereka untuk menjatuh pasukan yang lain. Diki yang merasa pekerjaanya selesai akhirnya memutuskan pulang, namun sebuah misil melaju cepat ke arah Diki. Dan,DHUAAARRR. Kena telak! Olympia terbanting. Diki berteriak kesakitan.

Rupanya yang menembak Diki adalah sebuah M.W.A berwarna perak. “Itu kan!!!” Teriak Diki. Rupanya itu adalah M.W.A milik pasukan Bangsawan Xian. Diki berusaha bangkit, namun tubuh Olympia nampaknya sudah rusak akibat misil tadi.

“DIKI! MENYERAHLAH! SEBAGAI PENGKHIANAT KAU AKAN MATI DI SINI! JANGAN MENYUSAHKAN ORANG LAIN OLEH PERBUATANMU!” Teriak pilot dalam M.W.A Perak itu.

“Kau! Tuan MTD! Tuan! Ini salah besar!”

“Kebohonganmu tak ada gunanya! Kau akan mati di sini! Heaaa!” teriak MTD. Dengan cepat M.W.A itu mendekati Diki dan ia merubah tangan kanannya mejadi Lance-Type Part dan menusuk Olympia. Diki berusaha mengelak namun mengenai lengan kiri Diki. Diki kembali berteriak kesakitan. Itupun belum cukup, Setelah mengembalikan Lance-Type ke bentuk semula, M.W.A itu mengambil senjata dari belakang punggungnya dan menembaki Olympia yang berusaha bangkit. Tak tertahankan lagi kesakitan yang Diki alami. Dan akhirnya Olympia tak dapat lagi di gerakkan, begitu pula sang pilotnya, Diki. Olympia menjadi patung dengan posisi berusaha berdiri dari tidurnya. MTD pun hampir saja menyelesaikan tugasnya dengan menembakkan misil di pundaknya. Hanya saja, Olympia menjaadi bercahaya terang. Tiba-tiba muncul sebuah segel yang melingkari seluruh tubuhnya, mengecil dan akhirnya berkumpul di punggung tangan Olympia. Segel itu membentuk sebuah symbol di atas punggung tangan Ollympia berbentuk gambar pedang. Dan tak lama kemudian, Olympia kembali bangkit.

“KAU MASIH BANGKIT! MATI KAU!” Teriak MTD sambil melancarkan misil-misilnya ke arah Olympia. Sebuah pemandangan menakjubkan, Olympia dengan tenang mengangkat tangannya ke arah misil itu dan muncullah sebuah pelindung force. Misil itu hancur sebelum mengenai Olympia. MTD menjadi geram dan kembali melepaskan misil-misilnya yang lain. Namun tetap saja,tak satupun yang mengenai Olympia. Olympia pun menonaktifkan pelindung forcenya lalu menghilang tiba-tiba dari hadapan MTD.

“HAH! Kemana dia?!” tanyya MTD geram. Namun yang ia dapati adalah sebuah koat yang runtuh oleh penyerangan tadi. MTD pun kembali menuju base camp Xian, menandakan bahwa kota Harksman telah menjadi jajahan Xian dan akhirnya Region Saverius pun jatuh ke tangan Xian.

Sedangkan di pelabuhan, Zimi dan pasukan yang selamat dikejutkan oleh sebuah lingkaran yang menteleportasikan sebuah M.W.A ke pelabuhan tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Diki dan Olympia itu sendiri….


<> <>